Headbangers on Halloween                           “REVIEW”
JK7 Café, Grand Floral Hotel, Kemang
28 Oktober 2006

Terus terang diperlukan mental dan keberanian extra untuk memutuskan
apakah sebaiknya saya datang ke acara tersebut atau tidak, karena
selain belum mendapat konfirmasi dari Pak Harris mengenai
keikutsertaannya (padahal saya sangat butuh teman nih), saya juga
khawatir penampilan saya yang "non-metallic" akan sangat menarik
perhatian (dalam arti yang negative lho). Tapi demi
menghormati "suhu" saya yang baru, JD, juga sebagai penghargaan
kepada mami metal ND, yang telah begitu berbaik hati meminjamkan
kostumnya kepada saya (sorry ya mam, kostumnya ketinggalan) , dan
juga untuk mensupport Tashea & her Pain Killer, maka saya
memberanikan diri untuk tetap datang ke acara tersebut, dan tiba
sekitar jam 19:30.

Ternyata sticker Pain Killer yang ada dimobil saya sangat menolong
untuk mendapatkan tempat parkir di hotel tersebut, yang sebenarnya
sudah penuh. Satpam yang semula menyuruh saya parkir diseberang
hotel, setelah melihat sticker tersebut mengatakan "Oh, dari Pain
Killer ya, silahkan dicoba di basement Pak", asik. Di basement sama
juga kejadiannya, hingga pada akhirnya saya bisa parkir ditempat
yang sebenarnya tertutup, karena garis batasnya masih basah (baru di
cat), asik lagi (sebenarnya waktu itu saya sudah mulai keder, karena
disekitar basement yang tampak cuma teenagers dengan kostum
Halloween nya).

Setelah menarik napas dalam2 (sambil mengerahkan tenaga dalam), saya
lalu berjalan ke lobby café untuk membeli ticket, sambil berharap
mudah-mudahan bisa bertemu dengan salah seorang teman dari i-Rock!
Surprise lagi, ketika saya hendak membayar (Rp. 20 ribu lho, tanpa
discount karena tidak pakai kostum), seorang nenek sihir bertopi
kerucut dengan ramah mengatakan bahwa saya tidak perlu membayar. Ha
ha ha, thanks again mam. Nenek sihir yang ternyata berinitial ND itu
juga memberitahukan bahwa Pak Posan telah datang pada sore harinya
khusus untuk menyaksikan band Alien Sick.

Setelah cukup beradaptasi, saya masuk kedalam café, tepat ketika "69
Cells" dari Bogor sedang beraksi dengan irama punk nya. Wouw,
rupanya seperti inilah suasananya kalau anak2 Indie berkumpul.
Ruangan café didominasi oleh nuansa hitam yang berasal dari warna
pakaian pengunjung, yang hampir 100% berasal dari kalangan teenagers
dan sebagian besar diantaranya juga mengenakan kostum Halloween.
Kebanyakan pengunjung berdiri, karena semua tempat duduk telah
terisi (pupuslah harapan saya untuk menyaksikan pertunjukan sambil
menikmati secangkir kopi). Bagaimana dengan performance dari band
nya sendiri ? Mereka tampil penuh percaya diri dalam membawakan
kreasi mereka (sepertinya ini salah satu persyaratan yang harus
dipenuhi mereka untuk bisa tampil dalam acara yang diselenggarakan
oleh Killer Entertainment) , dan sebagaimana layaknya anak-anak muda
seusia mereka, terlihat jelas usaha mereka untuk tampil sekeras
dan/atau seunik mungkin, bebas dan lepas (seakan nothing to lose),
didukung oleh peralatan yang serba canggih (pinjam istilah Pak
Posan : bikin ngiler) dan supporter mereka yang berdiri disekitar
panggung. Mungkin ini adalah ciri-ciri khas dalam acara Indie,
karena hal yang sama juga terlihat pada penampilan band2 berikutnya.
Saya tidak ingin memberikan penilaian mengenai musik yang dimainkan
69 Cells, pertama karena ilmu saya belum mencukupi, kedua karena
saya termasuk penggemar musik punk, jadi penilaian saya bisa
terkesan sangat subjective. Yang jelas saya bisa merasakan
atmosphere yang segar, meriah dan penuh spontanitas didalam ruangan
itu. Setelah mendengarkan satu lagu, saya memutuskan untuk keluar
ruangan dulu untuk mencari teman.

Ketika sedang berbincang-bincang dengan ND (sementara itu anak-anak
muda berkostum Halloween terus berlalu lalang tak henti-hentinya) ,
seorang anak muda datang menghampiri. Ternyata dia adalah new
guitarist dari Pain Killer, yang kini tampil dengan formasi baru
(Alfa dan drummer yang tampil di Front Row sudah tidak termasuk lagi
dalam squad mereka). Mengenai nama2 dari personil baru tersebut,
saya rasa sebaiknya Jim atau Tashea saja yang memberikan
announcement. Disitu saya juga diperkenalkan dengan salah seorang
gitaris kondang, Meisan, yang malam itu datang bersama temannya,
juga khusus untuk menyaksikan performance Pain Killer. Tak lama
kemudian muncul bintang Pain Killer, Tashea, dengan kostum scary
eyes nya (hiii serremmm deh matamu Tash), dan juga JD lengkap dengan
kostum metalnya. Sejujurnya, pada malam itu tidak ada satupun
pengunjung, yang nota bene anak2 muda semua, yang tampil lebih metal
daripada JD. Setelah berbincang-bincang cukup lama dan giliran Pain
Killer sudah mendekati, kami pindah kedalam ruangan dan berkumpul
disekitar panggung.

Ketika itu sebuah band beraliran metal, kalau tidak salah namanya
Immoralty Incident (catatan : mohon ralat dari panitia kalau saya
salah) sedang beraksi. Waduh man, band ini benar2 memerlukan
audience dengan kuping dan jantung yang sehat, karena mereka tampil
dengan full volume dan suara (baca : teriakan) penyanyinya sangat
dominan. Disatu saat penyanyinya melemparkan dirinya ke penonton,
dan terus bernyanyi sambil diangkat-angkat oleh supporternya. Crazy
banget, tapi menarik untuk dilihat.
Setelah itu tampil band yang bernama Accidental Hero. Kalau yang
satu ini saya angkat topi deh. Mereka memang tampil tidak kalah
keras dari band sebelumnya, tapi musiknya terstruktur rapih, jadi
enak untuk dinikmati sambil bergoyang gitu. Kreativitas mereka juga
cukup OK, sebagaimana tertuang dalam lagu baru mereka, Rock in Samba.

Setelah accidental Hero, tibalah giliran Pain Killer untuk unjuk
gigi. Rasanya saya tidak perlu banyak berkomentar tentang penampilan
mereka, yang sudah kita kenal dengan baik waktu event 3Logy di Front
Row bulan lalu. Seperti biasanya Tashea tampil dengan enerjik dan
percaya diri membawakan 4 lagu dari album pertama PK, yaitu Ilusi,
Friday Nite, Of My Own dan My Deception, dengan sedikit perubahan
aransemen disana-sini dan (menurut saya lho) tempo yang lebih cepat.
(Catatan : konon untuk event di Front Row yang akan datang, Tashea
akan membawakan juga kreasi terbarunya, cuma mungkin perlu diconfirm
lagi dengan yang bersangkutan) . Dengan vocal Tashea yang semakin
menunjukkan peningkatan, seharusnya PK bisa tampil lebih menawan,
sayangnya terjadi "kecelakaan" pada settingan lead guitar mereka.
Kecelakaan mana menyebabkan suara lead guitarnya nyaris terbenam
dalam rhythm yang powerful, sehingga, apa boleh buat, kita tidak
bisa bisa menyaksikan PK dalam form terbaiknya pada malam itu.
Mudah2an hal yang sama tidak terjadi lagi di Front Row (any comment
Jim ?).

Selesai penampilan Pain Killer, yang berarti berakhirnya tugas saya,
kami kembali ke lobby café untuk bercakap-cakap. Masih ada beberapa
band lagi yang akan tampil malam itu, seperti Dead Junkies, Kuro dan
Randals (jangan tanya genre nya ya, soalnya nama band nya saja baru
saya kenal malam itu). Total ada sekitar 21 band yang tampil malam
itu, dan salut pada Killer Entertainment selaku penyelenggara,
khususnya ND, yang dapat menjinakkan sedemikian banyak band Indie
dan supporternya, sehingga acara dapat berlangsung lancar dan bebas
dari anarki.

Akhirnya, karena kondisi perut yang sudah tidak mengijinkan (belum
makan), saya permisi pulang dengan membawa kesan yang positive
tentang komunitas Indie.

TS